Translate

Jumat, 27 April 2012

Dampak Fatal Onani Bagi Pria

Kebanyakan anak muda (pria) jaman sekarang sering melakukan masturbasi bahkan ada yang hingga kecanduan sampai-sampai jadi gelisah jika sehari saja tidak melakukannya.Hati-hati jangan keseringan, karena masturbasi juga punya efek samping jika terlalu sering dilakukan.Banyak faktor termasuk usia, ada beberapa pendapat yang menyebut frekuensi ideal untuk ejakulasi adalah 2-3 kali seminggu baik melalui masturbasi maupun hubungan seks yang sesungguhnya.
Dikutip dari AskMen, masturbasi yang terlalu sering bisa memicu aktivitas berlebih pada saraf parasimpatik. Dampaknya adalah produksi hormon-hormon dan senyawa kimia seks meningkat teramasuk asetilkolin, dopamin dan serotonin.
Ketidakseimbangan kimiawi yang terjadi akibat hobi masturbasi yang terlalu sering bisa memicu berbagai macam gangguan kesehatan antara lain sebagai berikut
:
  Impontensi atau Gangguan pada saraf parasimpatik bisa mempengaruhi kemampuan otak dalam merespons rangsang seksual.Akibatnyaa kemampuan ereksi melemah dan orang yang  dalam tingkat keparahan tertentu bisa menyebabkan impontensi yaituu gangguan seksual, penyebabnya yakni gangguan seksual yang menyebabkan penis tidak bisa berdiri sama sekali
ihhhh ngeri jugaaa yaaa...

  Rasa letih sepanjang hari
Setiap kali tubuhnya mengejang karena orgasme, pria akan kehilangan cukup banyak energi karena hampir semua otot akan mengalami kontraksi. Akibatnya jika terlalu sering, pria akan kehilangan gairah untuk beraktivitas dan cenderung akan merasa ngantuk sepanjang hari.
Sementara menurut pakar seks Dr Andri Wanananda MS, masturbasi relatif normal bila dilakukan tidak sampai mengggangu kegiatan produktif sehari-hari.

Diakuinya memang ada dampak masturbasi yang keseringan yakni terjadi ejakulasi dini saat sanggama dengan pasangannya.

"Hal ini disebabkan oleh kebiasaan tergesa-gesa saat masturbasi karena ingin cepat merasakan kenikmatan orgasme seorang diri (self-satisfaction). Lalu ketika ia menikah, sifat tersebut masih terpatri pada dirinya hingga mengabaikan eksistensi isterinya. Itulah yang menyebabkan banyak kasus ejakulasi dini," tutur Dr Andri dalam konsultasi kesehatan. 
 

  Nyeri punggung dan selangkangan
di karnakan kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan. Bagi yang melakukannya dengan tangan kosong tanpa pelumas, rasa nyeri juga bisa menyerang penis karena gesekan yang terjadi bisa menyebabkan lecet-lecet.

 Kebocoran katup air mani
Bukan hanya ereksi saja yang terpengaruh oleh kerusakan saraf, kemampuan saluran air mani untuk membuka dan menutup pada waktu yang tepat juga terganggu. Akibatnya sperma dan air mani tidak hanya keluar saat ereksi, lendir-lendir tersebut bisa juga keluar sewaktu-waktu seperti ingus sekalipun penis sedang dalam kondisi lemas. 

Dan yang terahir yaitu Kebotakan karena dampak lain dari ketidak seimbangan hormon yang terjadi jika terlalu sering masturbasi adalah kerontokan rambut. Jika tidak diatasi, lama-kelamaan akan memicu kebotakan atau penipisan rambut pada pria.

Semogaa info tadi bermanfaat bagi kalian ;) 

Kamis, 26 April 2012

tips memilih camera DLSR

Buat para pemula seprti saya jangan sampai salah memilih camera agar tidak menyesal kedepannya. Kebanyakan banyak orang memilih murahnya tidak memilih murah tidak memilih kualitasnya,ahirnya menyesal dee :(
  Nahh ne saya punya tips*  memilih camera buat para pemula
  1. Sensor Kamera D-SLR
Terdapat beberapa varian bagi sensor kamera digital ini, yaitu Full Frame (36 x 24mm), APS-H (28,7 x 19mm), APS-C (22,2 x 14,8 mm), dan Four-thirds (17,3 x 13mm). Perbedaan ukuran ini memang membingungkan untuk pemula, namun singkatnya, jika kita menggunakan sensor full frame (perbandingan gambar 3:2), maka gambar di jendela bidik akan terlihat penuh. Jika dicetak pada kertas foto ukuran 4 R (15 x 10 cm), maka tidak ada cropping pada cetakan karena sesuai dengan ukuran di LCD (15 : 10 = 3 : 2). Tapi jika kita menggunakan sensor APS-C, terdapat crop factor yang didapat dari pembagian sbb, lebar sensor full frame : lebar sensor APS-C, (36 :22,2 = 1,6) maka pada sensor APS-C terdapat crop factor 1,6.
Kamera dengan sensor APS-C, lebih cocok untuk telephoto, karena jika kita menggunakan lensa 70 – 300mm, itu artinya kita menggunakan lensa 112 – 480mm.
  2. Resolusi Kamera D-SLR (megapiksel)
Kamera Digital memberikan pilihan pada kita untuk menentukan seberapa besar resolusi yang kita butuhkan. Saat ini, kemampuan resolusi kamera D-SLR sudah mencapai 12 mp. Semakin besar ukuran resolusi kamera, semakin besar pula memori yang dibutuhkan untuk menyimpan gambar saat pemotretan. Pada dasarnya, resolusi kamera pada ukuran 10 mp, misalnya, resolusi maksimal mencapai 3872 x 2592. Namun untuk kebutuhan pemotretan biasa, resolusi sebesar itu akan memakan memori besar, oleh sebab itu, pada kamera D-SLR selalu dilengkapi dengan pilihan max resolusi dan low resolusi, agar kita bisa memilih sesuai kebutuhan. Banyak fotografer profesional masih menggunakan resolusi 6 mp, karena masih dirasa cukup untuk membuat foto yang baik. Pemilihan resolusi besar biasanya untuk keperluan cropping gambar nantinya. Selain itu, resolusi bukan lah segalanya. Pada kamera digital, penentuan resolusi tidak serta merta berkaitan dengan ketajaman gambar. Pada kamera D-SLR, ketajaman gambar lebih ditentukan oleh kelas lensa yang digunakan.
  3. Kamera D-SLR memiliki usia shutter tertentu
Jika kita menggunakan kamera SLR analog, setiap melakukan pemotretan, kita dibatasi oleh jumlah frame yang ada pada rol film negatif yang kita gunakan. Pada kamera D-SLR, hal tersebut ditiadakan. Kita bisa memotret dalam satu waktu hingga ratusan bahkan ribuan foto, selama memiliki memori penyimpanan data yang cukup. Namun demikian, pada kamera D-SLR terdapat yang dikenal dengan istilah shutter count, yaitu rekaman jumlah jepretan yang dilakukan oleh shutter pada kamera. Setiap kamera D-SLR, memiliki shutter count atau estimasi “masa hidup” shutter. Pada pengujian pabrik, kamera D-SLR kelas menengah mampu mencapai 50ribu jepretan kalau kamera D-SLR kelas atas bisa mencapai diatas 100ribu jepretan tanpa masalah.
Jadii intinyaa kamera D-SLR memang cocok untuk pemula dalam belajar, asalkan ketika belajar, kita tetap memiliki konsep memotret, berpikir dulu sebelum memotret, sehingga tidak membuang-buang usia shutter.
  4. Perawatan camera D-SL
Nahh ne juga gak kalah pentingnya apalagi di bagian paling fatal yaitu LENSA
jangan menaruh kamera di tempat lembab dan berdebu akibatnya bisa berjamurr. Debu akan menempel pada sensor kamera, dan pada hasil foto akan terlihat, apalagi ketika menggunakan bukaan kecil (diafragma).Tapi jangan hawatir untuk memberskan debu gampang* susah dan harus sabar membersihkan debu, bisa menggunakan alat peniup debu khusus yang tersedia di toko kamera. Walaupun pada kamera D-SLR terkini telah dilengkapi dengan sistem pembersih debu otomatis, tapi tetap secara manual dibutuhkan.

Nahh semoga tips* di atas tadi cukup bermanfaat buat kamuuu..semoga bermanfaat ;)